Senin, 27 April 2015

Just Opinion “ Suatu Senja Yang Cerah”

Sepanjang tahun 2015 ini banyak hal yang tidak terduga terjadi, baik itu perkara-perkara besar maupun perkara-perkara yang kecil. Kadang kita merasa bahwa kita kuat, tetapi tanpa kita sadari kita begitu lemah dan tidak berdayah. Kita berusaha terlihat kuat agar kita dikatakan mampu, padahal sebenarnya kita sangat mudah rapuh.
Suatu ketika di suatu sore, begitu banyak beban di pikiran ini dan mulai bingung serta tidak dapat berpikir lagi karena kekurangan money. Ada berkat yang Tuhan sediakan lewat peristiwa yang tidak terduga akan terjadi.
Kami mengendarai sebuah motor dan tersenggol hingga jatuh. Tidak ada yang dikawatirkan karena hanya kaget jadi sedikit syok. Tetapi yang menyenggol panik ditambah lagi sangat syok.
Hal menarik dari peristiwa ini kami hanya bingung karena jatuh, dia kepanikan karena sangat syok menyenggol kami. Dia berkali-kali menwarkan uang dan mau mengantar kami ke Rumah sakit. Kami berkali-kali menolak.
Bukan karena kami tidak mau menerima batuaanya, tetapi dalam peristiwa ini tidak ada yang dapat salahkan. Mengapa ? Karena namanya juga musibah tidak ada yang tahu. Karena semuanya rahasia ilahi, jadi kita tidak dapat menerka atau menebaknya.
Sangat bersyukur dengan peristiwa itu karena kami seperti terbangun dari tidur dan berbicara heyyy kalian itu lupa siapa yang memeberi kalian hidup. Kalian itu tanpa perlu bersedih hanya harus terus bersyukur aja, berkat kalian sudah Bapa di surga siapkan.
Inilah sedikit cerita yang dapat kami bagikan, semoga dapat memabntu kita untuk tetap bersyukur karena hidup dan mati kita hanya di tangan yang kuasa. Kalau Dia telah bersabda kita bisa apa ? Keep smile ;)

Sabtu, 07 Februari 2015

Teori Vs Lapangan





Apa yang anda pikirkan ketika mendengar tentang KKN ? Pasti tak asing ditelingamu tetapi juga bisa jadi kata itu masih baru buat kamu yang belum menempuh studi lanjut atau kuliah. KKN atau Kulia Kerja Nyata merupakan suatu program dari setiap perguruan tinggi yan telah menempuh semester tujuh atau delapan. Kegiatan KKN diharapkan agar mahasiswa dapat mengaplikasikan ilmu yang mereka peroleh dari kampus ke masyarakat.
Dalam pelaksanaan KKN waktu yang diberikan kampus berbedah-bedah, seperti kampus lain ada yang tiga bulan tetapi kampus kami hanya satu bulan. 
Dalam pelaksaan KKN kali ini kami tidak memiliki banyak persiapan untuk melakukan kegiatan karena hanya satu bulan dari tiga puluh satu Januari sampai dua puluh delapan februari 2015. Tetapi kami sekelompok berusaha untuk melakukan yang terbaik bagi masyarakat di Padukuhan Krapyak, Margoagung, Seyegan, Sleman, Yogyakarta.
Program kerja dan menjadi program unggulan kami adalah Warung Hidup dan Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Program ini bukan semata-mata dari kami tetapi merupakan kolaborasi kami dengan padukuhan. Harapan kami senoga dengan kehadiran kami dapat membantu setidaknya untuk menyediakan pupuk organik bagi mayarakat dengan memanfatkan bahan-bahan yang berada disekitar mereka seperti kotoran sapi, air cucian beras, air kelapa dan beberapa bahan lainnya yang mudah didapatkan.
Kegiatan KKN bisa terlaksana jika ada kerjasama yang baik antara kami dengan masyarakat. Maka dari itu kami sangat membutuhkan kerjasama yang baik dengan masyarakat agar kegiatan kkn ini dapat terlaksana dengan lancar.

Jumat, 30 Januari 2015

Berkenalan dengan Orang Asing di Negeri Sendiri



Pengalaman pertama kalinya selama menjadi tim kerja Stube-HEMAT Yogyakarta dapat melayani orang asing. Sudah pasti sangat seru dan menantang karena harus berbahasa inggris. Sekalipun bermodal Yes and No tetapi kami tetap percaya diri untuk tampil. Satu hal yang menarik ada satu dari mereka yang bisa berbahasa Indonesia. Jadi buat kami yang little speak English masih tetap dapat berdiskusi dengan mereka tanpa harus canggung dan takut salah.
Mom Edelgard namanya. Beliau sudah empatbelas tahun hidup di tanah Sumatera tepatnya di Sumatera Utara, Batak. Banyak hal yang beliau ceritakan. Mulai dari perkembangan setiap tahunnya banyak mahasiswa dari luar Jerman yang masuk ke Jerman mulai dari Asia, Afrika dan Negara-negara berkembang lainnya, dan berbagai permasalahan social yang terjadi.
Ada satu hal yang menarik yaitu kita harus mampu berbahasa jerman tapi bahasa inggris juga harus mantap. Mengapa bahasa jerman ? Karena ada beberapa mata kulia yang mewajibkan mahasiswa memakai bahasa jerman.
Waaw .. sesuatu ya ? Tetapi semuanya tidak berakhir di situ saja. Karena dengan mengetahui hal-hal yang dapat kita persiapkan jauh-jauh hari dapat membantu kita untuk dapat belajar sedini mungkin jika ingin menempuh studi di Jerman.
Pertemuan yang singkat tetapi luar biasa karena moment seperti itu tidak mudah terulang kembali. kehadiran mereka sangat memberi kontribusi karena dapat membantu kami untuk mengarahkan kompas menemukan titik koordinat yang tepat.
Terimkasih kalian sudah ikut bergabung dengan kami dalam pelatihan Christianity “Finding the Lost Truth”. Semoga kami dapat menemukan sebuah kebeneran sejati dalam diri kami dan mampu membaginya kepada sesama.
Keep Spirit for all of us .. :*

Senin, 15 Desember 2014

Bhineka Tunggal Ika Masih Hidup

Bagaimana perasaan anda ketika dapat membawakan tarian asli daerahmu di tempat lain ? Apakah anda senang ? Apakah anda sedih ? Atau biasa saja. Suatu kebanggan ketika kita dapat menari tarian asli daerah kita di negeri orang. Pada hari Rabu 10 Desember 2014 Korps Mahasiswa Pemerintah Universitas Muhammadiya Yogyakarta, mengadakan Fest Gebyar Goverment Semarak Cinta Bhineka Tunggal Ika Dalam Seni Budaya dan Kuliner. 


Acara ini sangat meriah karena dihadiri oleh beberapa Ikatan Pelajar Mahasiswa yang berada di Jogja untuk turut mengambil dalam memamerkan tarian daerah dan basar makanan khas. Ada Ikatan Pelajar Mahaiswa Thailand, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sumatera, DKI dan Maluku utara.

Pada kesempatan ini Propinsi Maluku Utara turut mengambil bagian menampilkan makan khas berupa sagu, pisang coe, lalampa dan cucur. Serta mereka menampilkan foto-foto yang diberi judul wajah-wajah Maluku Utara. Mereka juga memamerkan tarian daerah yaitu soya-soya, kapita dan cakalele. Setiap daerah juga turut mengambil bagian untuk memamerkan tarian khas daerah seperti tarian Dayak, Batak dan beberapa tarian lainnya dari Jawa. 

Nuansa adat sangat terasa disni, karena pembawah acarapun memakai pakaian adat dari Sulawesi Selatan dan Tenggara. Sungguh sangat terasa ke Indonesian disini karena rata-rata penampilan dari setiap IKPM sangat menonjolkan kekhasan daerah mereka. Semoga kegiatan seperti terus dikembangkan dan di lakukan secara kontinyu. Karena mengapa ? Acara seperti sangat membantu kita untuk dapat belajar menerima adat budaya dari saudara-saudara kita yang berbedah adat budaya dengan kita. 

Semangat terus untuk menunjukan pada Dunia bahwa kekuatan kita adalah perbedaan kita.

Jumat, 12 Desember 2014

Ketika Yang Muda Berkarya

Dengan nama Elisabeth Novia Listiawati dan kelahiran Karanganyar, 21 November 1993 adalah seorang mahasiswa aktif di Universitas Mercubuana Yogyakarta Fakultas Industri, Prodi Angroteknologi (2011). Sebagai mahasiswa Agroteknologi Dia bergabung dalam Himpunan Mahasiswa Agroteknologi dan mengikuti berbagai kegiatan yang diselenggarkan oleh organisasi tersebut.
 Diantara kegiatan yang di ikiuti salah satunya adalah kegiatan bina Desa pada tahun 2012-2014. Pada awal Maret 2014 Dia dan beberapa rekannya yang tergabung dalam satu tim memiliki inisiatif mengajukan proposal untuk mengikuti Program Hibah Bina Desa oleh Dirjen Dikti. Ada beberapa tahap yang harus mereka lalui, yaitu pra proposal, proposal dan presentasi. 

Tema yang diusung dalam proposal mereka adalah budidaya tanaman jahe.
Dari 1200 buah proposal yang diajukan untuk Dana Hibah hanya 75 proposal yang disetujui dan diberi dana untuk pengembangannya. Kelompoknya termasuk salah satu yang terpilih. Sudah pasti untuk sampai ke titik ini, banyak proses panjang harus dilewati dan hasilnyapun sungguh sangat memuaskan.Setelah proposal mereka di setujui, mereka harus segera menentukan desa mana yang akan mereka tuju untuk menjadi sasaran pembinaan kelompoknya. 

Dari berbagai kriteria untuk menjadi desa binaan, akhirnya mereka memilih desa Kaderowo, Gilangharjo, Pandak, Bantul. Desa ini dihuni oleh enampuluh kepala keluarga dan rata-rata adalah petani. Desa ini terpilih karena para petani disini sangat banyak memiliki waktu luang dan kadang mereka hanya menunggu dan menanti akan musim panen. Jika mereka memiliki pekerjaan tambahan maka mereka dapat lebih produktif lagi dan dapat menjadi mandiri.

Hasil kerja keras mereka tak sia-sia karena setidaknya mereka dapat mengimplentasikan ilmu mereka langsung ke lapangan dan dapat berbaur dengan masyarakat sekitar mereka. Membudidayakan jahe cukup prospek jika ditekuni. Mulai dari pembibitan pada usia tiga minggu sudah bisa dijual dengan harga Rp. 3000,- per polibek sedangkan yang usianya 1-2 bulan dijual dengan harga Rp. 6000,- per polibek.

Jenis jahe yang dibudidaya sendiri adalah jahe emprit, jahe gajah, dan jahe merah. Untuk jenis panennya sendiri berbeda-beda tergantung akan dijadikan apa jahe tersebut nanti. Karena jahe yang di budidaya disini sudah dijadikan manisan dengan masa panen empat bulan, sirup dan emping jahe dengan masa panen delapan sampai Sembilan bulan.
Untuk dapat mengawetkan jahe tak perlu dengan cara yang sulit hanya perlu menjadikannya simplisia dan dapat disimpan dengan masa waktu yang lama. Jika telah dijadikan simplisia dan dibubukan maka harga jualnya akan semakin mahal tergantung dari jenis jahe dan harga jual mentahnya. Semakin mahal harga jahe mentahnya maka harga bubuk simplisianya akan semakin mahal berkisar antara Rp. 100.000;- - 150.000; per kg-nya. Dari ketiga jenis jahe yang dibudidaya disini yang paling mahal adalah jahe merah.
Harapan dari Elis dan teman-temanya yang tergabung dalam tim Bina Desa ini tak banyak, yang mereka inginkan dari para petani adalah mereka tidak lagi bergantung pada produk-produk luar dan mereka mampu membuat produk sendiri dengan hanya berbahan jahe. Dan yang paling mengesankan Dia berharap agar desa ini dapat menjadi satu desa penghasil bahkan menyuplai jahe. Jika memungkinkan dapat juga menjadi desa yang terkenal dengan sebutan desa jahe. Hal uniknya lagi mereka tak menggunakan pupuk kimia melainkan pupuk organik yaitu kompos.

Jika petani kita bisa mandiri dalam membuat dan menyiapkan bibit, menanam, memanen, dan dapat mengolahnya menjadi produk jadi, maka kita akan dapat memberi sumbangsih pada negeri ini dalam memerangi produk Impor. Semangat selalu Elis, saya yakin masih banyak Elis-elis lain di luar sana.

Senin, 08 Desember 2014

Berperang Tanpa Amunisi




Menutup tahun 2014 Stube-HEMAT Yogyakarta mengadakan satu pelatihan terakhir di semester ini. Pelatihan yang berlangsun dari Jumat-Minggu, 21-23 November di Wisma PGK Shanti Dharma ini berlangsun cukup baik dari awal acara sampai akhir acara. Peserta pelatihan yang hadir bervariasi mulai dari semester 1 sampai semester yang paling akhir.  Peserta yang hadirpun dari berbagai penjuru tanah air, mulai dari timur sampai barat Indonesia.

Tema besar pelatihan kali ini Populasi, Pasar dan Tenaga Kerja dengan tema : Carpe Diem “Petiklah Harimu”.  Tema ini diambil agar setiap peserta yang hadir dapat turut mengambil bagian untuk setiap kegiatan dan aktifitas yang mereka lakukan agar segera mereka selesaikan jangan lagi menunda-nunda yang harus mereka kerjakan.

Semua pemateri yang dihadirkan panitia sangat menggugah rasa ingin tahu dan diskusi dalam forum berjalan baik karena para peserta tidak hanya duduk diam tetapi juga mereka semua terlibat aktif untuk bertanya. Pemateri-pemateri yang dihadirkan diantaranya :
1.  Bpk. Hadi Sutarmanto (Psikologi UGM) yang membawakan materi “Persaingan Bursa Tenaga Kerja dan Kompetisi Pasar” : Psikotes Dan Kualifikasi Tenaga Kerja.
2.  Struktur Birokrasi  dan Ketenagakerjaan : Aturan Perundangan Ketenaga Kerjaan dan Etika Dalam Bekerja, oleh : Dewan Pimpinan Daerah Konfederasi Serikat Pekerja diwakili oleh Bpk. Kinardi.
3.   Ibu  Sri Hartati dari Kantor Pemberdayaan Perempuan Yogyakarta.
4.  Tantangan Mahasiswa berkaitan Dengan MEA : “ Ekonomi Berbasis Pengetahuan” oleh : Dr. Murti Lestari, M.Sc , Peneliti Ekonomi Pembanguan sekaligus Board Stube-HEMAT. 

Pak Hadi lebih banyak mengarah pada psikologi seorang pekerja. Psikologi pekerja yang harus kita ketahui dan hal penting yang dapat membantu kita menempatkan seseorang sesuai dengan besik dan keahlianya serta ada beberapa tips yang diajarkan agar kita dapat dengan mudah mengenali karakter orang melalui caranya menggambar pohon, menggmbar titik menjadi benda mati atau hidup. Sudah pasti setiap orang berbedah dalam menggambar.
Pak Kinardi sendiri lebih pada mengajarkan dan memberi pemahaman UU buruh dan sepak terjang buruh dalam berjuang memperoleh hak-haknya. Karena jika kita melihat saat ini banyak buruh yang masih terlantar dan bahkan tak diperhatikan aspirasinya.
Ibu Sri sendiri memberi pemahaman masalah Gender dalam dunia kerja dan bagaimana penempatan gender itu sendiri serta seberapah jauh peserta memahami tentang gender itu sendiri.
Penutup materi Ibu Murti sekaligus sebagai Boart Stube-HEMAT membawakan materi yang sangat membuat penasaran dan baru padahal materi ini seharusnya sudah lama kita ketahui.
Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) adalah suatu kesepatakan pada KKT ASEAN yang isinya adalah akan diadakannya pasar bebas pada tahun 2015 mendatang. Sungguh sangat mengagetkan bukan ? Mengapa kita belum mengetahui apa itu MEA padahal masalah ini sudah hampir 11-12 tahun diresmikannya. Hal yang lebih mengagetkan lagi kita akan bersaing secara bebas dengan semua negara-negara ASEAN.
Mulai dari bisnis, pendidikan, kesehatan, dan semua aspek yang dapat dijadikan komoditi pasar dan memiliki nilai jual. Pertanyaannya apakah masyarakat kita sudah siap dengan hal ini ? Apakah mereka sudah mendengar atau mengetahui hal ini ? Ini merupakan PR yang berat bagi masyarakat yang masih awam pengetahuannya.
Hal yang selalu menggelitik adalah sampai dimana mereka mampu bersaing, sedangkan dalam negeri sendiri saja mereka belum mampu. Tetapi apa mau di kata hal ini tidak dapat kita hindari, mau tidak mau kita harus siap mengahadapinya. Maka mulai saat ini sekalipun kita belum siap untuk bersaing secara luas setidaknya kita mampu bertahan dari arus pasar bebas yang berlangsun pada 2015  mendatang. 

Harapan dari pelatihan ini yang di kemukakan oleh Yohanes Dian Alpasa selaku koordinataor lapangan adalah teman-teman peserta mampu untuk membangun, mempererat , dan menjaga jejaring dan komunikasi dengan orang-orang yang telah mereka kenal baik dalam pelatihan ini ataupun yang mereka temui diluar sana. Serta mereka mampu dan mau membuka diri untuk menerima hal-hal baru dan mau untuk terus belajar dan bersaing secara terbuka.

Karena apapun yang akan terjadi kita telah berada dalam masa dimana kita harus besaing secara bebas dan luas dengan siapa saja dan dimana saja. Maka kita harus mulai membangun diri kita dan terus belajar agar kita dapat menjadi ahli dalam bidang yang kita tekuni.