Rabu, 11 November 2015

Pendidikan Jalan Emas




Sumba, negeri elok yang begitu rupawan. Wilayah yang dikenal dengan tanah marapu karena di sini masih terdapat kepercayaan lain yang disebut marapu. Banyak cerita yang dapat dikemas dan di ceritakan. Tetapi dari sekian banyak itu ada satu cerita yang sama dengan daerah asalku. Masalah pembagian harta warisan.




Di kampung halamanku pembagian harta warisan yang berhak penuh adalah saudara laki-laki. Jika saudara perempuan ingin juga maka dia harus meminta kepada saudara  laki-lakinya. Terdengar  tidak adil bukan ? Tetapi yang menarik adalah di kampung saya perempuan tidak mendapatkaan harta warisan tetapi dia akan meminta untuk disekolahkan.



Ketika seorang perempuan telah disekolahkan, maka jika dia tidak mendapatkan warisan dia juga tidak memaksa untuk dibagi warisan. Tetapi hal ini juga tidak semua keluarga melakukannya. Karena ada keluarga yang malah untuk pernikahan relah berkorban tetapi jika menyinggung masalah menyekolahkan anak, rasanya sangat sulit bagi mereka untuk merogok kocek membayar biaya sekolah yang semakin mahalnya. Hal ini mulai tergerus setelah tahun 2000an.



Pada saat tiba di Sumba saya juga mendengarkan hal yang sama. Tidak banyak yang dapat saya bagikan kepada teman-teman di sana, saya hanya bercerita seperti biasanya dan mengharapkan mereka untuk berpikir sendiri memecahkan dan mencari apa solusi yang tepat untuk dapat menyelesaikan masalah tersebut. Tetapi sekilas saya melihat banyak sekali anak-anak perempuan yang sudah bersekolah dan kesadaran untuk mengeyam pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu jalan terbaik untuk dapat mengubah cara pandang dan pola pikir seseorang. Maka jika masih ada waktu untuk dapat belajar teruslah belajar agar mampu menguabah diri dan orang-orang di sekitar kita.



Jumat, 03 Juli 2015

Kisah Masa Kecil Menerobos Zaman

Hari itu waktu hujan deras, aku bersama Bapak dan Ibu baru tiba dirumah. Kami bukan mandi hujan, tetapi baru pulang dari ladang. Ibu dan Bapak basah kuyup aku pun demikian.

Aku bergegas membuka pintu rumah agar Ibu segera masuk dan melepas saloinya (sebutan utnuk keranjang yang di gendong dibelakang). Hujan di sore itu menjad saksi bisu yang tak bisa berkata-kata. Aku menatap Ibu dengan penuh kasih sayang dan kesedihan. Air mataku berlianangan tetapi aku tak mau Ibu melihatnya. 

Ada satu perasaan aneh dalam hatiku yang membuatku sangat bersedih, aku ingin mengganti dan membayar cucuran keringat mereka. 
Aku yakin semua anak ingin melakukannya. Tetapi tidak semua dapat melaksanakannya.

Ayah dan Ibuku adalah sahabat terbaikku, merekalah yang membuat seperti sekarang ini. Aku selalu bersungut-sungut lahir dikeluarga ini ketika masih berusia 7-15 tahun. Tetapi ketika bernjak SMA aku mulai menyadari satu hal, aku berbedah dari anak-anak lain. Aku anak dari seorang Ayah yang penuh wibawa dan percaya diri serta sangat percaya kepada TUHAN YESUS KRISTUS.

Aku anak ketiga dari tiga bersaudara, aku selalu memiliki pemikiranku sendiri. Aku selalu ingin menunjukan bahwa aku berbedah. Akupun tiak tau menau apa yang membuatku berbedah, tapi semakin aku berpikir aku akhirnya menemukannya. Aku berbedah karena aku seorang anak perempuan yang suka melaut. Mungkin itu menurutku yang membuatku berbedah.

Waktu kecil aku jarang sekali bebas bermain, tetapi aku selalu punya cara untuk bisa dapat bermain dengan teman-teman sebayaku. Ayahku begitu keras dalam mendidik kami apalagi aku, tapi tak pernah menyulutkan niatku untuk terus bermain.

Aku sangat senang bermain Bekel (kulit kerang dan bola goni), Lompat tali, main kelereng, main karet, main tali rabus, main boy (tempurung kelapa dan bola), cege-cege(lompat pada gambaran yang ada ditanah), benteng, mobil-mobilan, kapal-kapalan dan bermain perahu. Karena kakak keduaku cowok dan dia yang selalu bermain denganku, aku sering bermain kapal-kapal dengan dia ketika kami di pulau.

Aku melewati banyak hal yang luar biasa dan tak dapat aku ungkapkan dengan kata-kata. Saat itu dimasa itu waktu aku masih kecil aku berada disana untuk selalu bermain dan bercanda ria dengan teman-teman sebayaku.

Hari ini aku kembali diingatkan oleh seorang Bapak namanya Pak Rahmat. Beliau adalah Bapak yang penuh semangat untuk bercerita tentang sebuah sejarah yang tak pernah dimakan usia. Beliau kembali membuatku teringat dengan kampung halamanku dan kedua orang tuaku. 

Satu kalimat yang begitu menyentuh adalah cara kita membalas kebaikan orang tua kita adalah dengan melanjutkan cinta kasih mereka kepada sesama dengan mengasihi mereka sesuai dengan kasih KRISTUS.

Aku menitihkan air mata ketika bercerita tentang kedua orang tuaku, dan mendengarkan beliau menceritakan berbagai macam cerita yang sederhana namun sangat memberkati saya.
Sore itu yang membuat aku bisa berada disini, di Yogyakarta

Senin, 22 Juni 2015

Mencintai Lingkungan Dengan Hati


Hari Lingkungan Hidup sudah lama di deklarasikan. Harapannya agar dapat memberi sedikit penyadaran kepada masyarakat secara luas. Tetapi kesadaran untuk menjaga dan melestarikan lingkungan sepertinya hanya sebuah dongeng belaka, karena masih banyak kerusakan lingkungan yang terjadi akibat dari kelalaian manusia dan kerakusan manusia.

Memberi kesadaran kepada manusia dewasa seperti sedikit kesulitan karena mereka sudah lebih paham dan tidak mudah untuk diarahkan karena mereka sudah punya pendirian sendiri-sendiri. Mendekati anak Sekolah Dasar sepertinya masih sangat mungkin dilakukan karena mereka masih sangat polos dan haus pengetahuan.
Hal ini yang menjadi senjata bagi mahasiswa Institut Teknologi Yogyakarta (ITY) yang tergabung dalam Persekutuan Mahasiswa Kristiani (PMK). Mereka melakukan aksi edukasi kepada anak Sekolah Dasar dan mengajak mereka untuk melukis pada ember dengan tema lingkungan untuk dijadikan tempat sampah. 
Kegiatan yang mereka adakan dari tanggal 28 April sampai 30 Mei ini sangat mendapatkan apresiasi positif dari semua pihak yang terlibat. Mengapa? Karena sepertinya beberapa sekolah tersebut jarang mendapatkan kunjungan yang demikian. Acara ini berlangsun cukup lancar dari awal sampai selesainya. Teman-teman panitia berhasil mengujungi delapan Sekolah Dasar, satu Panti Asuhan dan satu Sanggar Anak Alam. Semua tempat yang mereka kunjungi adalah anak-anak SD kelas 4 dan 5.
Pada puncak acara teman-teman panitia membagikan bibit pohon kepada sekolah-sekolah yang telah mereka kunjungi sebagai ucapan terimakasih karena sudah mau menerima mereka dan membantu melancarkan kegiatan mereka. Semoga saja pada hari-hari berikutnya ada kegiatan-kegiatan lanjutan untuk melindungi Bumi kita dari kehancuran karena kerusakan lingkungan yang berdampak pada keberlangsungan kehidupan manusia. PMK !! Damai Di Hati ({})

Selasa, 16 Juni 2015

Melawan Dingin Untuk Belajar Mitigasi Bencana


Bencana merupakan suatu hal yang tidak pernah di harapkan oleh siapapun. Semua orang selalu berharap agar dapat tehindar dari bencana. Tetapi sangat sulit dihindari jika kelakukan dan perbuatan kita manusia sangat tidak ramah kepada alam.
Indonesia merupakan negara yang terletak di lingkaran gunung api sirkum pasifik dan mediterania karena 13% gunung-gunung yang ada di dunia terletak di sini. Sehingga sanagt sulit dihindari jika alam yang murka.
Berbicara bencana bukan hanya alam yang dapat mengahasilkan bencana, tetapi juga non alam seperti bencana sosial. Dewasa ini bencana sosial sangat sulit dihindari karena kelalaian manusia sendiri bencana sosial dapat terjadi.
Bencana-bencana yang terjadi sangat banyak menyita perhatian banyak orang didunia, seperti meletusnya gunung merapi, merebaknya pengusi rohingya, tanah longsor dimana-mana. Semuanya itu bukan suatu keetulan tiba-tiba terjadi, itu semua karena kelakukan manusia yang menyebabkan alam murka.
Melihat hal ini Stube-HEMAT Yogyakarta mengadakan pelatihan Bencana Alam dan Pelestarian Alam dengan tema “Mahasiswa Tangguh Bencana, Akankah?”. Harapan dari pelatihan ini menurut koordinatoor pelatihan Bencana Alam Sarloce Apang adalah agar teman-teman dapat memahami apa saja yang dapat mereka lakukan ketika mereka berada di daerah yang mengalami bencana. Siapa saja yang dapat mereka hubungi dan langkah apa saja yang dapat mereka ambil.
Pelatihan ini diadakan pada Jumat – Minggu, 12 -14 Juni 2015 di Omah Petruk, Tanen, Pakem, Yogyakarta. Pelatihan ini dihadiri oleh 22 orang peserta. Semua peserta yang hadir cukup antusia, karena mereka semua dapat mengambil bagian dalam setiap sesi pertanyan dan mereka semua terlibat dalam diskusi kelompok kecil. Sesi penutup pada pelatihan ini panitia menghadirkan Tim SAR merapi yang juga turut mengevakuasi korban mahasiswa Atmajaya yang jatuh di kawah merapi. Semoga saja diluar sana masih banyak teman-teman muda yang mau dan terus belajar untuk dapat mengerti apa pentingnya belajar tentang mitigasi bencana.

Senin, 04 Mei 2015

Kisah Kasih PERSAHABATAN

          Pada awal bulan maret seharusnya harus fokus pada Proposal Skripsi. Tetapi suatu ketika harus beranjak dari tempat duduk dan berusaha untuk melepaskan diri dan kesibukan yang biasa. Dalam suasana hati yang tidak menentu medengar kabar seorang sahabat datang ke Jakarta untuk praktek. Tanpa berbipikir banyak langsung saja segera bergegas untuk berjumpa.
          Sangat menyenangkan karena setiap bertemu selalu saja ada kisah baru yang dibuat untuk menjadi kenangan dan pengalaman. Bukan masalah lelah atau kesusuahannya tetapi karena kisah membuat hidup lebih hidup lagi.
Masih tetap tidak komplit karena ada seorang sahabat yang tidak dapat ikut merasakan. Tetapi suatu saat nanti tiga skrikandi muda akan bertemu dalam sebuah pertarungan hidup yang memberi banya pelajaran. Bangga menjadi bagian dari mereka, bahagia karena dapat menjadi sahabat sekaligus kakak dalam mengarungi baterah hidup menyongsong masa depan.
          Dalam pernjalan ini banyak kisah yang sulit diceritakan karena bingung mau mulai dari mana, tetapi semuanya selalu memberi motivasi untuk dapat menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya. Terimkasih buat sesoarng yang selalu mensuport dengan semua kecuekannya tetapi sangat penyanyang. Dia juga seorang sahabat tetapi sahabat hati.
Inilah kisah di awal bulan maret dibuat antara Jogja, Jakarta dan Bogor. Thanks for all ;) Love uu :* ({})